Senin, 13 Juli 2015

16 Desember 2005

assalamu alaikum wr.wb Gimana kabar yayangku hari ini, sibuk ya? Makasih surat kamu yang kemarin, dengan itu akan menambah gambaran kehidupan yang keras diluar sana, yang belum pernah aku tahu sedikitpun, aku punya banyak cita-cita, ketika SMP aku pingin banget jadi pramugari, tapi sayang aku merasa tidak dapat dengan jelas melihat tulisan bapak/ibu guru, ketika duduk di bangku belakang, setelah periksa mata aku miopi, ya apa boleh buat, cita-citaku tidak mungkin terwujud, SMA aku bercita-cita pingin jadi apoteker, atau perawat yang harusnya aku masuk akper, yang ada di semarang, tapi kalo dilihat dari biaya, ortu gak mampu, akhirnya masuk sma negeri. Sebelum bulan puasa kemarin pak dhe dari Palangkaraya datang dan menawarkan untuk kuliah disana, “ambil saja AK (akademi kesehatan)” kata pak dhe, “soalnya anak pak dhe yang paling kecil (2 tahun lebih tua dari aku) udah bisa jadi PNS tapi mulainya dari SMA, sekarang SMAnya udah ditiadakan,” Aku berfikir ini kesempatan yang tepat, tapi akhir-akhir ini ibu (tahu gak yang panggil gitu dua kakakku, aku manggilnya mamah, lucu khan! ) bilang kalau aku gak mungkin kuat, karena banyak praktek yang harus dilakukan dengan berdiri ber jam-jam, karena aku gak bisa terlalu lelah, karena aku pernah thypus, dan radang tenggorokan, aku kira juga begitu, aku bisa lulus tes tertulisnya, tapi gimana dengan tes kesehatannya, udah jauh-jauh ke banjarmasin, malah cuma buat kecewain Pak Dhe. Lebaran kemarin, keluarga dari ibu (3 bersaudara) kumpul di Salatiga, karena mbah tinggal di Salatiga, tapi yang datang hanya keluarga pak dhe dan Bu dhe yang tinggal di semarang, sedang yang ada di palangkaraya gak bisa datang, anak bu dhe yang dari semarang , yang paling kecil juga, (5 tahun lebih tua dari aku) yang kerja di ungaran, menawarkan ke aku, “kalau lulus, nanti, mau kerja di ungaran apa gak?” Ya karena aku pikir, aku gak bisa meneruskan, apa gak dicoba dulu kerja? Tapi kakakku itu bilang, aku harus siap fisik dan mental, karena kerjanya juga berdiri, (wah ketemu lagi yang buat badan lelah) dan omongan orang-orang pabrik, “aku aja yang udah kerja lama kadang masih sakit hati,” (wah gimana ya? Aku kan “cilik ati” gak bisa dengan yang namanya tersinggung) tapi setahun ini aku coba hilangkan sifat itu, gak tahu sudah hilang sepenuhnya atau nggak, karena tiap ada yang agak menyakitkan, aku sudah coba tahan, dan coba untuk tidak membuat orang lain tersinggung. Karena aku sudah mau ujian, temen-temen aku tanya mau neruskan kemana? Ada yang buat aku punya gambaran mau kemana nanti kalau lulus, aku pingin neruskan ke PGSD (D2) setidaknya 5-10 tahun nanti akan ada pensiun besar-besaran, dan pasti banyak menerima PNS baru, ortu sih kasih dukungan, tapi biaya? Ya gak tahu lah nanti, moga aja ada jalan, kata ayahku, “ yen ayahmu ora iso dadi guru, mbok menowo kowe iso dadi guru.” ayahku punya pengalaman menyakitkan, aku harap tidak terulang kepada kamu, ayah dulu anak pondok yang punya 6 adik, (ibunya yang kemarin kesini, tapi mbah kakungku sudah meninggal ) ayah setelah dari pondok kuliah di UNISULA, (ayah bisa lho baca kitab kuning/arab gundul) karena kuliah biaya sendiri, saat skripsi ayah gak punya biaya, ya gak dapat deh yang namanya gelar, padahal kurang selangkah lagi. Lalu ayah jadi guru (wiyata bhakti) karena terlalu lama dan dengan gaji kecil (aku gak tahu udah ma ibu dan kakakku apa belum. Aku gak tahu cerita lengkapnya) ayah gak sabar dan waktu itu untuk jadi pegawai negeri harus memberi uang sogokan, ayah gak mau yang begituan, sekarang ayah menyesal, apalagi kalau melihat teman-temannya yang jadi dosen, atau guru, makanya ayah tak pernah cerita panjang lebar tentang masalah ini, dan aku pun tak berani tanya-tanya karena takut membuat ayah teringat dengan masa lalu dan penyesalannya. Aku sangat berharap kamu bisa menyelesaikan skripsimu, agar cerita ayah tidak terjadi lagi padamu, ayah pandai banget tentang masalah agama, tapi aku tak bisa nuruni kepandaian itu, kenapa ya? Ayah sering mengisi pengajian dan khotbah tiap jumat pahing dan jumat kliwon. Kakak pertamaku namanya IZZATUL FITRI OKTAVIANA dia cantik banget, sampai-sampai kakak ke duaku ERY ASHAR RAYHAN, nyimpen fotonya waktu masih SMA di dompetnya, katanya buat pamer kalau itu ceweknya, atau biar dapet cewek kayak kakak. Jarak aku ma kakak perempuanku 14 tahun, waktu SMA dan udah lulus, banyak banget yang antri mau apel, gak bisa aku hitung, mereka mendekati kakak aku melalui adiknya, (waktu itu aku masih SD) seneng banget dapat coklat, boneka, jalan-jalan, wah... enak banget. Sampai akhirnya mereka ditanya ma ibu, tapi gak ada yang berani menuju keseriusan hanya ada satu, ya yang sekarang jadi suaminya itu, dia PM. Satu tahun yang lalu dia di kirim ke aceh, waktu ada tsunami, waktu itu kami semua bingung, khawatir, alhamdulillah Allah masih menyelamatkan kakak iparku itu, katanya sih waktu di pos tsunaminya cuma melompati kantornya, kalau kakakku yang laki-laki sepuluh tahun lebih tua dari aku, katanya sebenarnya sudah tidak ingin punya adik lagi, aku jadi saingan cinta ibu, cinta kakakku itu gak mulus, tiap punya cewek cantik, baik, ditanya deh ma ortu si cewek, karena pekerjaan dan belum siapnya kakakku, putus deh cintanya, menikahlah sang cewek dengan orang lain, sekarang kakakku kerja di bandung, serabutan/ganti-ganti, bosenan sih orangnya. Dan sambil dekat lagi ama Allah lewat pondok Aa Gym, malah ceweknya yang terakhir yang ada di salatiga, aku ma ibu liat udah hamil, tapi kami gak cerita ke kakak, kasihan takut hancur hatinya, aku sudah banyak cerita tentang keluargaku, nanti gantian kamu ya, (aku gak bisa cerita lebih jauh karena itu rahasia keluarga, iya gak?) Aku mau cerita tentang teman-teman aku, oh ya... kamu dapat salam dari sahabatku, aneh ya, tiap hari ketemu, sehari marah, sehari enggak, gitu terus, padahal hanya karena masalah kecil, mereka bertengkar, soal gak bilang kalau mau latihan senam, dikira pemadatan siang, marah deh, gara-gara pemadatan pagi, temenku berangkat duluan, takut telat dan dimarahi guru, marah lagi, tadi aja kelihatannya udah baikan, e... satu setengah jam kemudian sudah marahan lagi, gara-gara gak sabar nunggu temen aku latihan senam, wah... aneh ya, yang punya cowok dua, katanya yang satu mau diputusin, e... gak jadi, yang satu disukai nak IPS, tapi ditolaknya, kalau liat si cowok, melarikan diri, (aneh kan? Suka tapi malah menghindar, ) ya gitu deh kalau punya temen aneh-aneh, lucu-lucu, dan yang pasti beraneka ragam, sifat dan wataknya. Aku minta doakan aku terus ya, biar ujian yang akan datang, aku bisa lulus, gak tergoda ma lingkungan, temenku kelas dua udah ada yang jadi ibu lho. Sayang banget kan? Wah... kehidupn ini keras banget ya, belum terjun sepenuhnya ja, udah kayak gini rumitnya, apalagi esok... Semoga cita-cita, keinginan dan harapan, kita bisa tercapai, dengan ridhonya, udah capek belum baca surat aku yang banyak ini? ditambah tulisannnya yang goyang-goyang, abis banyak banget yang mau aku ceritakan, udah dulu ya, salam sayang... Wassalamua alaikum, wr.wb.
Diujung pena ini,
Ukiran jiwa terpahatkan,
Lukisan hati terbaitkan,
Ku coba untai kebahagiaan,
Yang datang bergandengan,
Tak ingin ku berbagi,
Tak ingin membagi,
Walau dengan kekasih hati,
Ingin ku berlari,
Bawa rasa ini,
Bila nanti,
Bahagia pergi,
Ku sendiri yang kan sesali,
Ku kan kembali,
Cari jati diri,
Tambahan ya... kan bayar perangkonya sama Kamu kan tahu aku dirumah sendiri, gak punya teman curhat, seneng rasanya yang punya kakak atau adik, yang beda usia 2-4 tahun, bisa jalan bareng, tuker cerita, wah pasti asyik, kamu tahu gak temenku dirumah? Jangan ketawa ya, temenku kucing, lucu lho, walau banyak orang bilang itu kucing banyak sebabkan penyakit, tapi aku sayang banget ama kucing, apalagi yang dirumah, kakakku yang perempuan dulu juga suka banget ma kucing, tapi setelah punya anak gak lagi deh, sentuh itu kucing. Aku suka banget berada di tengah temen-temen, apalagi kalau lagi kumpul semua, ketawa, bercanda, ada satu temen yang kalau gak ada dia, kawan-kawan yang lain jadi gak punya bahan pembicaraan/bahan obrolan lucu, tapi kalu dia datang jadi seru, ramai banget, kelihatannya dia tomboi. Suka ceplas-ceplos, kasar tingkahnya tapi pegalaman ma cowok, wah... kayak gula dirubung semut, ganti-ganti terus, dulu kelas satu, aku pikir dia cowok, karena saat pilihan ketua kelas nama yang bikin aku tertarik, namanya Galih, pikirku orangnya tinggi, besar, gemuk, dan putih, setelah dia terpilih dan maju ke depan, karena aku belum kenal, e..e... cewek to. Kecil, item, agak manis sih, gemuk, ya gak gemuk-gemuk amat, lama kelamaan aku merasa aku gak mungkin jadi temenya karena kebanyakan temen aku pendiam, karena dia gak begitu banyak bicara, clemongan lah pokoknya, gak ada kamusnya fara temenan ma orang kayak gitu, kelas dua aku sekelas, wah gimana nih, dia malah duduk di belakang ku, ya lama-lama aku bisa menerima sifatnya itu. Aslinya dia enak diajak curhat, perhatian meski orangnya aneh, suka lagu dangdut, tapi tingkah cowok, untung cincinnya yang hilang kemarin ( dari cowoknya) ketemu, kelas tiga dia ambil bahasa, tapi kalau sabtu jam terakhir kita kumpul waktu pelajaran agama, karena BAHASA & IPA 2, terdiri dari 2 agama, jadi dijadikan satu, aku gak terlalu suka dengan orang yang banyak bicara, pelit, mau menang sendiri, (meskia aku juga sering gitu) gak tepati janji, (walau kalau janjian, temen datang telat aku diem aja, padahal di hati nggerundel,) aku suka orang yang ngerti aku, selalu beri dukungan, bantu cariin solusi kalau ada masalah, berfikir dewasa, ya itu yang kemarin kirim salam, dia anak IPA 1. Besok kamu cerita tentang temen-temen kamu juga ya...tapi gak usah yang ajak kamu nonton blue film. Dosa gak sih nonton yang begituan? Seneng sih kamu jujur, aku kan gak berhak larang kamu, kalau dosa ya kamu sendiri yang tanggung, toh mumpung masih muda, gitu kali ya? Apa kamu mau coba jadi lebih hebat dari mantanku? Masak putusin yang baik apa gak, bingung?